Selasa, 23 Februari 2016

kumpulan tugas asitimur



MAKALAH ASIA TIMUR
Tentang
MASUK DAN BERKEMBANGNYA CONFUSIANISME
DI JEPANG DAN KOREA



                                                                                               





                                                                   Oleh: kelompok 3
                MELA ANGGRAINI : 412.177
                DELVI SUSANTI        :412.219 
                NURUL FAJRI            : 412.407


JURUSAN TADRIS IPS KONSENTRASI SEJARAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1436 H/ 2015 M















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konfusianisme adalah perkembangan dari narasi filsafat, ide-ide dalam tradisi Konfusian memungkinkan interpreter dari era filosofis berbagai budaya untuk menguraikan Konfusianisme dalam konteks yang berbeda. Dalam perkembangannya ke berbagai wilayah di Asia Timur, Konfusianisme beradaptasi dengan wilayah penyebarannya sehingga muncullah Konfusian naratif baru. Konfusian di Korea, sarjana chong Yagyong, menegaskan bahwa pembelajaran otentik harus kembali ke ajaran awal Konfusius sebelum masuk pada neo-Konfusianisme, seperti ia yang melanjutkan mengembangkan filsafat Konfusianisme yang unik dalam dialog dengan Gereja Katolik Roma
Konfusianisme telah berkembang di beberapa wilayah Asia Timur seperti China, Korea, Jepang, dan Vietnam. Pertama, Cina adalah negara yang pertama kali mengembangkan filosofi Konfusianisme yang kemudian disebut sebagai neo-Konfusianisme. Neo-Konfusianisme ini adalah bentuk utama dari Konfusianisme yang mendominasi kehidupan intelektual di Asia Timur sejak abad 14 dan memiliki dampak yang besar terhadap kehidupan Korea, Jepang, dan intelektual Vietnam

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas tentang masuk dan berkembangnya confusianisme
a.       Confusianisme di Jepang
b.      Confusianisme di Korea




BAB II
PEMBAHASAN
MASUK DAN BERKEMBANGNYA CONFUSIANISME
DI JEPANG DAN KOREA


A.    Confusianisme di Jepang
1.      Latar Belakang
Konfusianisme adalah kemanusiaan, suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia, tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan adalah melalui perdamaian. Untuk mencapai perdamaian , Khonghucu (Confucius) menemukan hubungan antar manusia yang meliputi Lima hubungan (Ngo Lun) berdasarkan Cintakasih dan Kewajiban. Khonghucu berbicara, hidup dan mendambakan dimana ada kebahagiaan di dunia ini, kebaikan dan perdamaian yang akan menggantikan kesengsaraan, kejahatan, dan peperangan.
1)      Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):
·         Ren – Cintakasih
·         Yi – Kebenaran/Keadilan/Kewajiban
·         Li – Kesusilaan, Kepantasan
·         Zhi – Bijaksana
·         Xin – Dapat dipercaya
2)      Lima Hubungan Sosial (Wu Lun):
      • Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan
      • Hubungan antara Suami dan Isteri
      • Hubungan antara Orang tua dan anak
      • Hubungan antara Kakak dan Adik
      • Hubungan antara senior dan Junior 
2.      Sejarah Konfusius di Jepang
Konfusianisme adalah salah satu paham yang berintikan nilai-nilai moral kebaikan pada penganutnya. Konfusianisme dicetuskan oleh seorang filosof Cina yang bernama Konfusius. Lahir pada abad ke-5 di Sando,Cina.
Nilai-nilai konfusianisme mulai masuk ke Jepang pada abad ke-6. Ajaran ini mulai masuk ke Jepang ketika Pangeran Shotoko mengirim wakil-wakilnya untuk belajar di Cina. Sepulang dari Cina, mereka membawa pulang banyak buku ilmu pengetahuan Cina.
Kon Fu Tse memasuki Jepang  dengan gelombang besar pertama pengaruh Cina antara abad ke-6 dan ke-9, tapi agama Kon Fu Tse tampaknya dikalahkan oleh agama Budha, sampai timbulnya sistem Tokugawa yang terpusat dalam abad ke-17 membuatnya kelihatan lebih relevan dari pada sebelumnya. Konfusianisme adalah sebuah agama disamping sebuah filsafat moral. Namun setelah masuk ke Jepang, Unsur-unsur keagamaannya menjadi semakin lemah, dan yang dapat hidup terus hanya aspek sekulernya seperti filsafat etikanya yang berhubungan dengan hubungan antar manusia dan pemerintah dari suatu negara. Selain itu sampai pada masa Restorasi Meiji, Konfusianisme kebanyakan hanya dipelajari oleh golongan elit samurai saja. Sejak masuknya Konfusianisme menjadi dasar kepercayaan Jepang,  para samurai mulai meninggalkan pedangnya dan mengajar di sekolah-sekolah, dan juga sejak Restorasi Meiji. Konfusianisme menekankan bahwa proses belajar akan memberikan kebahagiaan. Konfusius juga mengajari pengikutnya untuk banyak membaca. Melalui sistem pendidikan yang efektif, nilai-nilai ini tertanam kuat dalam masyarakat Jepang.


3.      Konfusius di Jepang
Saat Jepang pertama kali menerima istilah agama pada akhir tahun 1850, mereka mengalami kesulitan dalam memahami arti agama tersebut. Karena dalam kehidupan mereka, tidak ada istilah agama. Mereka hanya mengenal istilah shū (sekte), kyō (ajaran), dan ha (sub-sect or faction), untuk mengistilahkan Budha, Kon Hu Chu, Taoism, Kristen, dan sebagainya.
 Untuk sementara waktu, pada masa itu agama dianggap sebagai suatu bentuk doktrin atau sekte. Sehingga, masyarakat Jepang menetapkan istilah shū kyō sebagai sebutan untuk agama.
Di Cina terdapat tiga ajaran yang mengacu pada ajaran Kon Hu Chu, Taoisme, dan Budha. Pada ketiga pemikiran ajaran tersebut, menggambarkan tiga tokoh besar sebagai pembawa ajaran. Dalam pemikiran Jepang ketiga ajaran tersebut sama halnya, namun ajaran agama Taoisme berubah menjadi ajaran Shinto. Karena ajaran Taoisme memusatkan keyakinan pada hal-hal gaib yang ada di alam. Sehingga ajaran tersebut tidak dapat menyaingi ajaran Shinto yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Jepang. Dan, orang Jepang makin banyak yang berpaling kepada ajaran Konfusius yang lebih condong pada dunia fana, sebuah filsafat yang berbicara tentang dimensi sosial kehidupan manusia.
Dalam filsafat tersebut, terdapat beberapa mazhab (aliran), salah satu yang ada kaitannya di Cina  bernama Wang Yang-ming (1472-1529), yang mengajarkan pengembangan kepribadian bermoral dan memperkokoh etika terhadap orang lain sesuai dengan keadilan dan kepedulian kepada orang lain. Selain itu, mazhab Neo-Konfusius, yang dikembangkan oleh Chun Hsi pada dinasti Sung (1130-1200), dengan pemikiran menciptakan dan memelihara masyarakat yang tertib. Kedua mazhab ini berpengaruh di Jepang pada abad XVI. Ajaran Neo-Konfusis merupakan ajaran untuk dunia fana, sehingga memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan dengan ajaran Budha.( W.G. Beasley.2003: 218)
Dalam masa 200 tahun antara tahun 1608 dan abad XIX, pemikiran Konfusius ddi Jepang berkembang menjadi bermacam ragam. Diantaranya kelompok Kumazawa Banzan (1619-1691), menempatkan moral di atas kepentingan negara. Kelompok lain, Ogyu Sorai (1666-1728), ia menolak pemikiran tindakan penguasa harus didasarkan pada filsafat moral, melihat Shogun sebagai penguasa mutlak yang didukung oleh pejabat bukan faktor keturunan. Dengan demikian, Ogyu membandingkan kedudukan Shogun dengan kedudukan raja-raja di Cina. Namun, Ogyu mengalami dua kesulitan, yaitu pertama, Jepang memilikii raja yang kedudukannya lebih tinggi dari Shogun, kedua, pejabat pemerintah pusat Jepang adalah Samurai, yang dipilih oleh Shogun berdasarkan status sosial mereka.oleh sebab itu, situasi Jepang tidak sepenuhnya sesuai dengan kategori yang ada dalam ajaran Konfusis. .( W.G. Beasley.2003: 220)
Seorang cendekiawan, Arai Hakuseki (1657-1725), ia menerapkan ajaran Konfusius mengenai pemerintahan yang baik sebagai tolak ukur yang ada pada teori Cina mengenai pemberontakan. Sedangkan Yamaga Soko (1622-1685), berpendapat mengenai penyelarasan peranan Samurai dengan doktrin Konfusius dengan etika yang menuntut hidup hemat, disiplin diri, dan mau berkorban dalam menjalankan kewajibannya. Ia menambahkan teladan moral, dengan demikian ia membawa etika Konfusiuske lapisan masyarakat lebih rendah. 
Nilai-nilai konfusius menjadi jiwa dan karakter Jepang. Bahkan hingga kini, dan itulah salah satu cikal bakal kemajuan Jepang saat ini. Menjadikan negara Jepang negara maju. Konfusianisme mengajari pengikutnya untuk hidup sederhan dan tidak bermewah-mewah. Tentu saja hal ini yang mempengaruhi ekonomi Jepang. Orang Jepang selalu berhemat dengan menabung uangnya.


Berikut beberapa ajaran konfusius yang sampai sekarang menjadi tujuan dan kemajuan bagi Jepang sendiri.
·         Bekerja adalah jiwa dan nilai dari hidup itu sendiri
Masyarakat selalu berusaha untuk tidak egois dalam hal pekerjaan. Mereka selalu berusaha bekerja seprofesional mungkin gar dapat dihargai oleh masyrakat. Memberikan yang terbaik dari apa yang ia kerjakan dan bagaiman agar orang sekitarnya merasa sejahtera.
·         Uang bukan segala-galanya.Pengusaha Jepang tidak pernah mementingkan diri dengan sibuk memperkaya dirinya sendiri. Yang selalu terpikir oleh mereka bagaimana agar usahanya dapat berkembang dalam waktu lama. Tidak menghalalkan berbagai macam cara agar bisa meraup untuk dalam waktu yang singkat.
·         Pendidikan dan proses itu penting. Masyarakat Jepang selalu belajar dengan intensitas yang tinggi. Berpikir jauh ke depan agar tak tertinggal. Alhasil kini Jepang menjadi negara kuat dan diperhitungkan di mata dunia. Dan proses belajar mereka dari segala aspek. Pemikiran, industri, ekonomi, teknologi, dan lain-lain

4.      Perbedaan Konfusius di Cina dengan di Jepang
Konfusius di Cina merupakan suatu agama, disamping sebuah pemikiran filsafsat moral yang dipusatkan pada ajaran tentang etika, ajaran tentang hubungan masyarakat dimana mereka harus menjaga hubungan antar sesama manusia dengan tujuan menjaga keharmonisan kehidupan.
Sedangkan konfusius di Jepang, mengalami perbeda konsep dengan konfusius yang ada di Cina. Hal ini dikarenakan karakteristik masyarakat di Jepang yang tidak terlalu menganggap bahwa agama adalah sesuatu yang spesial. Sebagai contoh, orang Jepang akan menyembah dewa-dewa dari agama yang berbeda tanpa adanya perasaan yang menyimpang atau bertentangan. Ataupun seorang pendeta dari suatu agama diperbolehkan memimpin upacara keagamaan dari agama lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep konfusius di Cina yang dianggap sebagai suatu agama, ketika masuk ke Jepang berubah, karena unsur keagamaannya yang berkurang dan yang lebih menonjol adalah aspek sekuler dari konfusius, yaitu dasar pemikiran etika hubungan antar manusia.

B.     Confusianisme di Korea
a)      Pengertian Konfusianisme
Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha merupakan tradisi kepercayaan Korea di masa lalu. Namun Konfusianisme telah mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat di Korea. Konfusianisme adalah suatu ajaran filosofi moral yang masuk ke Korea dari Cina pada zaman Tiga Kerajaan. Dalam ajaran ini dikenal lima dasar hubungan antar manusia:
·         Hubungan antara penguasa dengan rakyat
·          Hubungan antara ayah dengan anak laki-lakinya
·         Hubungan antara seorang laki-laki dengan istrinya
·         Hubungan antara kakak dengan adik
·         Hubungan antar teman.
‘Kesetiaan’ dan ‘kesolehan’ merupakan wujud kewajiban paling utama yang harus sela­lu dipatuhi dalam menjalani kelima hubungan tersebut.
Penemu Konfusianisme adalah Konfusius yang nama asli ajarannya adalah “yu” (Kementrian Kebudayaan dan Olahraga Republik Korea, 1997:57). Nama asli Konfusius sendiri adalah Kong Fuzi atau Master Kung. Konfusius merupakan bahasa latin dari nama Cinanya (Dorothy, 2004:8).
Beberapa aspek ajaran konfusianisme yang memberi andil yang besar pa­da pembentukan masyarakat Korea antara lain: pertama, Konfusianisme menawarkan standart moral yang meliputi moral individu, atur­an moral dalam hidup bermasyarakat dan aturan moral yang berhubungan dengan negara. Moral-moral tersebut didasari pada 5 nilai utama, yaitu kebajikan, kebenaran dan keadilan, etika, kebijaksanaan dan kepercayaan. Kedua, Konfusianisme menekankan pendidikan. Konfusianisme berpengaruh pada tujuan, metode dan kurikulum sekolah. Ba­ik pa­da pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal yang dila­kukan di rumah, konfusianisme mempunyai peran dalam membentuk karakter orang Korea. Ketiga, ritual Konfusian pada pemujaan leluhur menjadi sebuah bagian yang utuh dari kehidupan Korea. Upacara tersebut biasanya dipraktekan saat upacara pemakaman, tradisi Konfusianisme diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Keempat, Pandangan orang Korea tentang manusia dan dunia sangat dipengaruhi ajaran konfusianisme. Ajaran Konfuisianisme tetap kuat dalam kehidupan masyarakat Korea walaupun perannya semakin berkurang (Keum, 2000:33-34).
Masuknya Konfusianisme ke Korea secara tidak langsung mempengaruhi kebudayaan Korea. Ada tiga cara dimana Konfusianisme mempengaruhi kebudayaan Korea yakni, pengaruh budaya, pengaruh politik, dan pengaruh sosial. Pengaruh budaya dimana Konfusianisme mempengaruhi seni, huruf, pendidikan, dan filosofi. Ini adalah tahap pertama dalam mempengaruhi kerajaan kuno di Korea. Pengaruh politik dibangun pada budaya yang telah terpengaruh (Grayson, 2002:49).Konfusianisme dan mengadopsi perkembangan filosofi politik yang mengawali peciptaan birokrasi negara dan struktur pemerintahan formal dengan berbagai fungsi politik dan memeriksa fungsi pemerintahan. Kemudian pengaruh sosial dimana Konfusianisme merestrukturisasi asas masyarakat, meliputi adat istiadatdan nilai, terutama perubahan dalam hubungan sosial. Ini adalah tahap terakhir Konfusianisme di Korea. Sampai pada dinasti Choson, pengaruh Konfusianisme di Korea sangat besar di are politik dan urusan kebudayaan, hampir tidak menyentuh lingkungan sosial

b)      Perkembangan Konfusianisme di Korea.
Konfusianisme di Korea berkembang dari masa ke masa. Konfusianisme berkembang pertama kali dari Tiga Kerajaan dan semakin berkembang di masa Dinasti Koryo, Choson, setelah kemerdekaan dan pada masa budaya kontemporer Korea.
Ø  Konfusianisme Pada Masa Tiga Kerajaan.Konfusianisme masuk ke Korea dari Cina melalui politik dan kebudayaan. Tidak ada tanggal pasti mengenai masuknya Konfusianisme dari Cina ke Korea, namun bukti-bukti menunjukan bahwa Konfusianisme datang sebelum masa Tiga Kerajaan. Oleh karena itu diasumsikan bahwa Konfusianisme diperkenalkan ke Korea antara 403-221SM (Keum, 2000:34).
Tiga kerajaan merupakan gabungan dari kerajaan Koguryo, Paekche, dan Silla. Raja Jumong mendirikan Kerajaan Koguryo pada tahun 37 SM, Raja Oryo mendirikan Kerajaan Paekche pada 18 SM, dan Kerajaan Silla pada tahun 57 SM dengan raja pertamanya Pak Hyogose (Yang dan Setiawati, 2003: 15).Kerajaan Koguryo berlokasi paling dekat dekat dengan tiongkok, daerah Yomyong, Liaoning, sekarang terletak di wilayah Manchuria. Koguryo pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddha. Konfusianisme pertama kali diterima di Koguryo kemungkinan sejak abad ke-4 Masehi, lalu berturut-turut ke Paekche dan Silla, saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan (Grayson, 2002:49).
Di abad ke-4 seperti Koguryo dan Paekche mengadopsi dan menyerap Konfusianisme dari Cina. Pengadopsian pengetahuan mengenai Konfusianisme dan sistem pendidikan Konfusianisme adalah sebuah arti penting budaya dan standar politik Korea yang tinggi. Pengadopsian Konfusianisme di satu bentuk atau lainnya tidak berarti negara itu kemudian menjadi masyarakat Konfusianisme, tetapi hanya menerima pengaruh Konfusianisme yakti budaya alam (Grayson, 2002:49).
Pada akhir pertengahan abad ke-4 banyak muncul sekolah-sekolah yang berbasis kepada ajaran-ajaran Konfusianisme. Peristiwa besar yang terjadi di akhir pertengahan abad ke-4 adalah penerapan ajaran Konfusianisme. Tulisan-tulisan tentang Konfusianisme yang disusun wajib dibaca di sekolah resmi yang pertama didirikan di Koguryo pada 375 M (Keun, 2000:35). Pendirian akademi ini diikuti segera dengan pembinaan berbagai akademi swasta bernama Kyongdang. Meskipun tujuan sekolah-sekolah ini untuk mendidik pemuda Koguryo dengan ideologi Konfusianisme klasik, literatur Cina, dan bela diri, aturan mereka dengan membatasi merusak salah satu aspek penting Konfusianisme (Grayson, 2002: 49-50). Di selatan Paekche, seorang cendikiawan bernama Kohung menyusun sebuah buku sejarah (sogi), yang ditulis pada masa Cina klasik tahun 375. Koguryo menggunakan Tao sebagai prinsip panduan Konfusianisme. Tidak hanya Koguryo, paekche dan Silla juga melaksanakan ajaran Konfuasianisme yang idela bagi pemerintahan (Keum, 2000:35).
Kerajaan Silla merupakan kerajaan terakhir yang mendapat pengaruh Konfudianisme pada masa Tiga Kerajaan setelah Koguryo dan Paekche yang sudah mendapatkan pengaruh Konfusianisme bertahun-tahun sebelumnya. Pada masa Silla terdapat Kukhak, yakni sekolah yang mengajarkan Konfusianisme yang dikelola oleh para ahli Konfusianisme dan pembantunya (Yang dan Setyawati, 2003: 36). Loyalitas, bakti, dan keberanian antara kebajikan-kebajikan utama yang beranggotakan pemuda Hwarang Silla, terkemuka dalam pengetahuan dan seni bela diri. Kebajikan-kebajikan ini juga merefleksikan nilai-nilai Konfusianisme yang dipegang secara luas oleh mereka. Konfusianisme sesuai dengan keadaan manusia, sedangkan ajaran Buddha lebih memperlihatkan masalah rohani. Orang-orang Silla lebih tertarik kepada Konfusianisme dibanding Buddha. Konfusianisme merupakan elemen penting dalam filosofi sosial pada era Tiga Kerajaan, suatu masa dimana Buddha juga berkembang (Keum, 2000:35-36)

Ø  Konfusianisme Pada Masa Dinasti Koryo.
Koryo berdiri pada tahun 918 dengan Raja Taejo sebagai raja pertama. Kebudayaan bangsa Korea yang berlandaskan Konfusianisme berkembang pesat pada masa ini (Yang dan Setiawati, 2003: 42). Pada masa Kerajaan Koryo perkemabangan bangsa Korea tidak hanya pada kebudayaan yang berlandaskan Konfusianisme tapi juga perkembangan pendidikan mengenai Konfusianisme. Pertumbuhan institusi pendidikan Konfusianisme dimulai pada abad ke-10 dan terus berlanjut sampai abad ke-11. Terutama penting bagi penciptaan sekolah swasta pendidikan Konfusianisme. Sebelumnya, pendidikan formal Konfusianisme merupakan hak khusus pemerintahan (Grayson, 2002:90).
Selama masa pemerintahan raja Songjong fungsi upacara pada leluhur didedikasikan untuk surga. Pengabdian kebajikan orang-orang Korea semula didedikasikan untuk konfusius. Neo-konfusianisme menjadi gelombang baru di Korea menjelang akhir dinasti Koryo (Keum, 2000: 37). Neo-konfusianisme memiliki perbedaan yang besar dalam memandang alam semesta dan dunia dibanding Buddha. Neo-konfusianisme percaya bahwa seseorang harus menerima dan mengerti sifat dasar dari alam semesta dan mendirikan filosofi pemerintahannya dan bekerja lebih keras untuk mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari (Yi, 1997;16-17).
Konfusianisme di Korea berpindah dari satu diantara pengaruh beberapa politik dan budaya menjadi pengaruh sosial utama. Dalam era ini, sistem Konfusianisme sosial yang sesungguhnya mulai muncul (Grayson, 2002: 104).

Ø  Neo-konfusianisme Pada Masa Dinasti Choson
Choson berdiri pada tahun 1392 dengan raja pertamanya Yi Song-gye. Pada masa Choson ilmu Konfusianisme dijadikan sebagai dasar teori dalam memerintah kerajaan (Yang dan Setyawati, 2003: 65).
Penciptaan pemerintahan baru Choson tidak hanya melahirkan dinasti Korea baru, tetapi juga membuat ajaran Konfusianisme lebih kuat. Berbeda dari dinasti lain terdahulu, ideologi Kerajaan Choson berdasar pada filosofi Konfusianisme. Dari abad ke-5, pengaruh Konfusianisme menjadi penanda pengaruh sosial bukan sekedar pengaruh politik dan sosial (Grayson, 2002: 112). Struktur pemerintahan dipengaruhi untuk dapat mendirikan kerajaan yang berlandaskan Konfusianisme (Yang dan Setyawati, 2003: 65). Dalam proses pengembangan institusi dan penguatan ekonomi pada abad ke-15, praktek etika dan aspek ritual Neo-konfusianisme menekankan pada aspek filosofi di Choson (anonim a, 20002: 67).
Pada awal abad ke-17, Neo-konfusianisme berkembang dengan penanganan khusus pada ajaran etika. Ajaran Neo-konfusianisme berpusat pada ritual keluarga. Periode ini melihat pembudayaan etiket populer dan untuk mengerahkan pengaruh yang lebih besar pada kehidupan masyarakat. Etiket keluarga bervariasi atara strata masyarakat yang berbeda-beda, tapi secara luas dipraktekan oleh keluarga biasa. Meskipun berbeda dengan penerapannya, akan tetapi semua praktek didirikan oleh prinsip yang sama ( Keum, 2000: 41). Pada abad ini, ahli Neo-konfusinisme menegaskan kekuatan mereka walaupun terjadi kerusuhan didalam dan diluar. Invasi Jepang pada 1592 dan 1597 serta invasi Manchu pada 1636 memberikan sebuah kesempatan untuk menguji kembali peran Neo-konfusianisme sebagai ideologi dominan. Pembelajaran ritual berkembang pesat pada abad 17 sebagai sebuah pelajaran ilmiah. Pembelajaran dinamakan “Masa Pembelajaran Agama” dan banyak kontroversi terjadi pada saat itu (anonim a, 2002: 74-79).
Awal abad ke-18, kontroversi menggelora diantara ahli Neo-konfusianisme seperti perbedaan klasik antara manusia dan persoalan yang ada. Peristiwa ini membuktikan bahwa Non-konfusianisme di Kerajaan Choson diperhatikan dengan fokus studi kemanusiaan (Keum, 2000: 42).
Ketika Katolik masuk ke Korea pada 1784, Neo-Konfusianisme berusaha menekan usaha masuknya agama ini ke Korea. Rintangan besar menerima Katolik  oleh masyarakat Choson adalah Katolik melarang pemujaan kepada leluhur, upacara Konfusianisme yang paling dasar. Kekerasan dan sistem kepercayaan fanatik masyarakat Choson yang diatur oleh Konfusianisme, menolak masuknya Katolik (Keum, 2000: 43-45).

Ø  Konfusianisme Pada Masa Kemerdekaan
Bersama dengan bebasnya Korea dari Jepang pada 1945, Para ahli Konfusianisme membangun kembali jaringan organisasi mereka. Pada bulan Maret 1946, perwakilan berkumpul untuk membuka pusat Yudohe (Masyarakat Konfusius). Sebagai afiliasinya yayasan Songgyun’gwan didirikan untuk mengambil alih manajemen Songgyun’gwan ( Akademi Konfusius Nasional) di Seoul dan Hyanggyo (akademi lokal) dibagian lain Korea. Pada bulan Sepetember tahun 1946 didirikan Universitas Songgyun’ gwan atas usaha Kim Chang- Suk (Keum, 2000:46).
Pada tahunn 1980, pengikut ajaran Konfusius mengadakan inagurasi Lembaga Penelitian Konfusius pada 1985 untuk mendorong penelitian ilmiah melalui seminar berkala dan terbitan jurnal yang mendorong sebuah reinterpretasi modern ideologi Konfusius Tradisional (Keum, 2000: 49).

Ø  Konfusianisme dan Budaya Komtemporer Korea.Saat ini, nilai-nilai modern barat mengancam nilai-nilai ortodoks Konfusianisme tradisional Korea. Kebudayaan Korea mengakar kuat pada Konfusianisme dimana bertanggung jawab untuk mempertahankan peninggalan negara yang dihormati dan memperkaya perkembangan kebudayaannya.
Pertama, Konfusianisme harus mendukung integritas dan keberlanjutan sejarah Korea dengan reformasi dan menyesuaikan diri dengan masyarakat kontemporer. Kedua, Konfusianisme bisa memberikan masyarakat kontemporer Korea dengan sebuah standar praktik pelaksanaan dalam bentuk ritual dan etiket. Ketiga, Konfusianisme memperkuat struktur masyarakat. Keempat, moral Konfusius dan karakternya dikontribusikan untuk kehidupan masyarakat Korea di masa kini. Kelima, semangat Konfusius akan dijalankan sebagai tenaga penggerak manusia untuk mencari keadilan.
Konfusianisme Korea adalah sesuatu di masa lalu. Konfusianisme masih bertahan sampai saat ini. Tugas mendesak bagi komunitas Konfusius Korea adalah menyesuaikan fungsinya pada kondisi yang berlaku di masyarakat modern melalui sebuah reformasi dinamis dan aktivitas (Keum, 2000: 49-51)




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Konfusianisme adalah ajaran yang dinamis dan dapat beradaptasi mengikuti situasi dan kondisi dalam negara yang dipengaruhi ajarannya. Konfusianisme juga banyak dijadikan ajaran utama dalam berbagai sekolah di Cina, hal ini dikarenakan Konfusianisme dianggap mampu mendorong kehidupan manusia pada keharmonisan. Menurut saya, Konfusianisme adalah ajaran yang sulit untuk diartikan sebagai ilmu karena narasi filosofis dan ide-ide yang masih abstrak dalam ajarannya. Bahkan untuk mengembangkannya kita harus berulang-ulang kembali ke dasar dari ajaran tersebut. Oleh karena itu baik di Cina, Korea maupun Jepang, Konfusianisme mengalami banyak perubahan secara bertahap dengan pengaruh-pengaruh eksternal seperti budaya Barat. Konfusianisme di Jepang walaupun memiliki perbedaan, tetapi segala ajaran dan tujuannya tetap sama dengan ajaran konfusianisme di Cina, yaitu tujuannya untuk kesejahteraan kehidupan antar manusia.











DAFTAR PUSTAKA

diakses pada : Sabtu, 06 Juni 2009
Catatan pelajaran Sejarah Kebudayaan Jepang I, Kamis, 02 Juni 2009
Reischauer, Edwin O, 1982, Manusia Jepang. Sinar Harapan: Jakarta.
Danandjaja, James, 1997, Foklor Jepang. PT. Puataka Utama Grafiti: Jakarta.
Beasley, W.G, 2003, Pengalaman Jepang Sejarah Singkat Jepang, Yayasan Obor Indonesia.
Chai, Wenhua, Yang Xu. 2006. Traditional Confucianism in Modern Cina: Mayifu’s Ethical Trought dalam Frontiers of Philosophy in China, Vol 1, No.3.
Keum, Jang-Tae. 2000, Confucianism and Korea Thought. Seoul: Jimoondang.