MAKALAH
ASIA TIMUR
Tentang
MASUK DAN BERKEMBANGNYA CONFUSIANISME
DI JEPANG DAN KOREA
Oleh: kelompok 3
MELA ANGGRAINI : 412.177
DELVI SUSANTI :412.219
NURUL FAJRI : 412.407
JURUSAN
TADRIS
IPS KONSENTRASI SEJARAH
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM
BONJOL PADANG
1436
H/ 2015 M
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Konfusianisme adalah perkembangan dari narasi filsafat, ide-ide dalam
tradisi Konfusian memungkinkan interpreter dari era filosofis berbagai budaya
untuk menguraikan Konfusianisme dalam konteks yang berbeda. Dalam perkembangannya
ke berbagai wilayah di Asia Timur, Konfusianisme beradaptasi dengan wilayah
penyebarannya sehingga muncullah Konfusian naratif baru. Konfusian di Korea,
sarjana chong Yagyong, menegaskan bahwa pembelajaran otentik harus kembali ke
ajaran awal Konfusius sebelum masuk pada neo-Konfusianisme, seperti ia yang
melanjutkan mengembangkan filsafat Konfusianisme yang unik dalam dialog dengan
Gereja Katolik Roma
Konfusianisme telah berkembang di beberapa wilayah Asia Timur seperti
China, Korea, Jepang, dan Vietnam. Pertama, Cina adalah negara yang pertama
kali mengembangkan filosofi Konfusianisme yang kemudian disebut sebagai
neo-Konfusianisme. Neo-Konfusianisme ini adalah bentuk utama dari Konfusianisme
yang mendominasi kehidupan intelektual di Asia Timur sejak abad 14 dan memiliki
dampak yang besar terhadap kehidupan Korea, Jepang, dan intelektual Vietnam
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas tentang masuk dan berkembangnya
confusianisme
a.
Confusianisme
di Jepang
b.
Confusianisme
di Korea
BAB II
PEMBAHASAN
MASUK DAN BERKEMBANGNYA CONFUSIANISME
DI JEPANG DAN KOREA
A.
Confusianisme di Jepang
1. Latar Belakang
Konfusianisme adalah kemanusiaan,
suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan
keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam
Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian,
melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia,
tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu. Kondisi yang diperlukan untuk
mencapai kebahagiaan adalah melalui perdamaian. Untuk mencapai perdamaian , Khonghucu
(Confucius) menemukan hubungan antar manusia yang meliputi Lima
hubungan (Ngo Lun) berdasarkan Cintakasih dan Kewajiban.
Khonghucu berbicara, hidup dan mendambakan dimana ada kebahagiaan di dunia ini,
kebaikan dan perdamaian yang akan menggantikan kesengsaraan, kejahatan, dan peperangan.
1) Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):
·
Ren – Cintakasih
·
Yi –
Kebenaran/Keadilan/Kewajiban
·
Li – Kesusilaan,
Kepantasan
·
Zhi – Bijaksana
·
Xin – Dapat dipercaya
2) Lima Hubungan Sosial (Wu Lun):
- Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan
- Hubungan antara Suami dan Isteri
- Hubungan antara Orang tua dan anak
- Hubungan antara Kakak dan Adik
- Hubungan antara senior dan Junior
2. Sejarah Konfusius di Jepang
Konfusianisme adalah salah satu paham yang berintikan
nilai-nilai moral kebaikan pada penganutnya. Konfusianisme dicetuskan oleh
seorang filosof Cina yang bernama Konfusius. Lahir pada abad ke-5 di Sando,Cina.
Nilai-nilai konfusianisme mulai masuk ke Jepang pada abad ke-6. Ajaran ini mulai masuk ke Jepang ketika Pangeran Shotoko mengirim wakil-wakilnya untuk belajar di Cina. Sepulang dari Cina, mereka membawa pulang banyak buku ilmu pengetahuan Cina.
Nilai-nilai konfusianisme mulai masuk ke Jepang pada abad ke-6. Ajaran ini mulai masuk ke Jepang ketika Pangeran Shotoko mengirim wakil-wakilnya untuk belajar di Cina. Sepulang dari Cina, mereka membawa pulang banyak buku ilmu pengetahuan Cina.
Kon Fu Tse memasuki Jepang dengan gelombang
besar pertama pengaruh Cina antara abad ke-6 dan ke-9, tapi agama Kon Fu Tse
tampaknya dikalahkan oleh agama Budha, sampai timbulnya sistem Tokugawa yang
terpusat dalam abad ke-17 membuatnya kelihatan lebih relevan dari pada
sebelumnya. Konfusianisme adalah sebuah agama disamping sebuah filsafat moral.
Namun setelah masuk ke Jepang, Unsur-unsur keagamaannya menjadi semakin lemah,
dan yang dapat hidup terus hanya aspek sekulernya seperti filsafat etikanya
yang berhubungan dengan hubungan antar manusia dan pemerintah dari suatu
negara. Selain itu sampai pada masa Restorasi Meiji, Konfusianisme kebanyakan
hanya dipelajari oleh golongan elit samurai saja. Sejak masuknya Konfusianisme
menjadi dasar kepercayaan Jepang, para samurai mulai meninggalkan
pedangnya dan mengajar di sekolah-sekolah, dan juga sejak Restorasi Meiji.
Konfusianisme menekankan bahwa proses belajar akan memberikan kebahagiaan.
Konfusius juga mengajari pengikutnya untuk banyak membaca. Melalui sistem
pendidikan yang efektif, nilai-nilai ini tertanam kuat dalam masyarakat Jepang.
3. Konfusius di Jepang
Saat Jepang pertama kali menerima istilah agama pada
akhir tahun 1850, mereka mengalami kesulitan dalam memahami arti agama
tersebut. Karena dalam kehidupan mereka, tidak ada istilah agama. Mereka hanya
mengenal istilah shū (sekte), kyō (ajaran), dan ha (sub-sect or faction), untuk
mengistilahkan Budha, Kon Hu Chu, Taoism, Kristen, dan sebagainya.
Untuk sementara waktu, pada masa itu agama dianggap sebagai suatu bentuk
doktrin atau sekte. Sehingga, masyarakat Jepang menetapkan istilah shū kyō
sebagai sebutan untuk agama.
Di Cina terdapat tiga ajaran yang mengacu pada ajaran Kon
Hu Chu, Taoisme, dan Budha. Pada ketiga pemikiran ajaran tersebut,
menggambarkan tiga tokoh besar sebagai pembawa ajaran. Dalam pemikiran Jepang
ketiga ajaran tersebut sama halnya, namun ajaran agama Taoisme berubah menjadi
ajaran Shinto. Karena ajaran Taoisme memusatkan keyakinan pada hal-hal gaib
yang ada di alam. Sehingga ajaran tersebut tidak dapat menyaingi ajaran Shinto
yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Jepang. Dan, orang Jepang
makin banyak yang berpaling kepada ajaran Konfusius yang lebih condong pada
dunia fana, sebuah filsafat yang berbicara tentang dimensi sosial kehidupan
manusia.
Dalam filsafat tersebut, terdapat beberapa mazhab
(aliran), salah satu yang ada kaitannya di Cina bernama Wang Yang-ming
(1472-1529), yang mengajarkan pengembangan kepribadian bermoral dan memperkokoh
etika terhadap orang lain sesuai dengan keadilan dan kepedulian kepada orang
lain. Selain itu, mazhab Neo-Konfusius, yang dikembangkan oleh Chun Hsi pada
dinasti Sung (1130-1200), dengan pemikiran menciptakan dan memelihara
masyarakat yang tertib. Kedua mazhab ini berpengaruh di Jepang pada abad XVI.
Ajaran Neo-Konfusis merupakan ajaran untuk dunia fana, sehingga memiliki daya
tarik lebih besar dibandingkan dengan ajaran Budha.( W.G. Beasley.2003: 218)
Dalam masa 200 tahun antara tahun 1608 dan abad XIX,
pemikiran Konfusius ddi Jepang berkembang menjadi bermacam ragam. Diantaranya
kelompok Kumazawa Banzan (1619-1691), menempatkan moral di atas kepentingan
negara. Kelompok lain, Ogyu Sorai (1666-1728), ia menolak pemikiran tindakan
penguasa harus didasarkan pada filsafat moral, melihat Shogun sebagai
penguasa mutlak yang didukung oleh pejabat bukan faktor keturunan. Dengan
demikian, Ogyu membandingkan kedudukan Shogun dengan kedudukan raja-raja
di Cina. Namun, Ogyu mengalami dua kesulitan, yaitu pertama, Jepang memilikii
raja yang kedudukannya lebih tinggi dari Shogun, kedua, pejabat
pemerintah pusat Jepang adalah Samurai, yang dipilih oleh Shogun
berdasarkan status sosial mereka.oleh sebab itu, situasi Jepang tidak
sepenuhnya sesuai dengan kategori yang ada dalam ajaran Konfusis. .( W.G.
Beasley.2003: 220)
Seorang cendekiawan, Arai Hakuseki (1657-1725), ia
menerapkan ajaran Konfusius mengenai pemerintahan yang baik sebagai tolak ukur
yang ada pada teori Cina mengenai pemberontakan. Sedangkan Yamaga Soko
(1622-1685), berpendapat mengenai penyelarasan peranan Samurai dengan
doktrin Konfusius dengan etika yang menuntut hidup hemat, disiplin diri, dan
mau berkorban dalam menjalankan kewajibannya. Ia menambahkan teladan moral,
dengan demikian ia membawa etika Konfusiuske lapisan masyarakat lebih rendah.
Nilai-nilai konfusius menjadi jiwa dan karakter
Jepang. Bahkan hingga kini, dan itulah salah satu cikal bakal kemajuan Jepang
saat ini. Menjadikan negara Jepang negara maju. Konfusianisme mengajari
pengikutnya untuk hidup sederhan dan tidak bermewah-mewah. Tentu saja hal ini
yang mempengaruhi ekonomi Jepang. Orang Jepang selalu berhemat dengan menabung
uangnya.
Berikut beberapa ajaran konfusius yang sampai sekarang
menjadi tujuan dan kemajuan bagi Jepang sendiri.
·
Bekerja adalah jiwa dan
nilai dari hidup itu sendiri
Masyarakat selalu berusaha untuk tidak egois dalam hal pekerjaan. Mereka selalu berusaha bekerja seprofesional mungkin gar dapat dihargai oleh masyrakat. Memberikan yang terbaik dari apa yang ia kerjakan dan bagaiman agar orang sekitarnya merasa sejahtera.
Masyarakat selalu berusaha untuk tidak egois dalam hal pekerjaan. Mereka selalu berusaha bekerja seprofesional mungkin gar dapat dihargai oleh masyrakat. Memberikan yang terbaik dari apa yang ia kerjakan dan bagaiman agar orang sekitarnya merasa sejahtera.
·
Uang bukan
segala-galanya.Pengusaha Jepang tidak pernah mementingkan diri dengan sibuk
memperkaya dirinya sendiri. Yang selalu terpikir oleh mereka bagaimana agar
usahanya dapat berkembang dalam waktu lama. Tidak menghalalkan berbagai macam
cara agar bisa meraup untuk dalam waktu yang singkat.
·
Pendidikan dan proses
itu penting. Masyarakat Jepang selalu belajar dengan intensitas yang tinggi.
Berpikir jauh ke depan agar tak tertinggal. Alhasil kini Jepang menjadi negara
kuat dan diperhitungkan di mata dunia. Dan proses belajar mereka dari segala
aspek. Pemikiran, industri, ekonomi, teknologi, dan lain-lain
4. Perbedaan Konfusius di Cina dengan di Jepang
Konfusius di Cina merupakan suatu agama, disamping
sebuah pemikiran filsafsat moral yang dipusatkan pada ajaran tentang etika,
ajaran tentang hubungan masyarakat dimana mereka harus menjaga hubungan antar
sesama manusia dengan tujuan menjaga keharmonisan kehidupan.
Sedangkan konfusius di Jepang, mengalami perbeda
konsep dengan konfusius yang ada di Cina. Hal ini dikarenakan karakteristik
masyarakat di Jepang yang tidak terlalu menganggap bahwa agama adalah sesuatu
yang spesial. Sebagai contoh, orang Jepang akan menyembah dewa-dewa dari agama
yang berbeda tanpa adanya perasaan yang menyimpang atau bertentangan. Ataupun
seorang pendeta dari suatu agama diperbolehkan memimpin upacara keagamaan dari
agama lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep konfusius di Cina yang
dianggap sebagai suatu agama, ketika masuk ke Jepang berubah, karena unsur
keagamaannya yang berkurang dan yang lebih menonjol adalah aspek sekuler dari
konfusius, yaitu dasar pemikiran etika hubungan antar manusia.
B. Confusianisme di Korea
a) Pengertian Konfusianisme
Konfusianisme, Taoisme,
dan Buddha merupakan tradisi kepercayaan Korea di masa lalu. Namun
Konfusianisme telah mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat di Korea.
Konfusianisme adalah suatu ajaran filosofi moral yang masuk ke Korea dari Cina
pada zaman Tiga Kerajaan. Dalam ajaran ini dikenal lima dasar hubungan antar
manusia:
·
Hubungan antara
penguasa dengan rakyat
·
Hubungan antara ayah dengan anak laki-lakinya
·
Hubungan antara seorang
laki-laki dengan istrinya
·
Hubungan antara kakak
dengan adik
·
Hubungan antar teman.
‘Kesetiaan’ dan
‘kesolehan’ merupakan wujud kewajiban paling utama yang harus selalu dipatuhi
dalam menjalani kelima hubungan tersebut.
Penemu Konfusianisme
adalah Konfusius yang nama asli ajarannya adalah “yu” (Kementrian Kebudayaan
dan Olahraga Republik Korea, 1997:57). Nama asli Konfusius sendiri adalah Kong
Fuzi atau Master Kung. Konfusius merupakan bahasa latin dari nama Cinanya
(Dorothy, 2004:8).
Beberapa aspek ajaran
konfusianisme yang memberi andil yang besar pada pembentukan masyarakat Korea
antara lain: pertama, Konfusianisme menawarkan standart moral yang meliputi
moral individu, aturan moral dalam hidup bermasyarakat dan aturan moral yang
berhubungan dengan negara. Moral-moral tersebut didasari pada 5 nilai utama, yaitu
kebajikan, kebenaran dan keadilan, etika, kebijaksanaan dan kepercayaan. Kedua,
Konfusianisme menekankan pendidikan. Konfusianisme berpengaruh pada tujuan,
metode dan kurikulum sekolah. Baik pada pendidikan formal di sekolah maupun
pendidikan informal yang dilakukan di rumah, konfusianisme mempunyai peran
dalam membentuk karakter orang Korea. Ketiga, ritual Konfusian pada pemujaan
leluhur menjadi sebuah bagian yang utuh dari kehidupan Korea. Upacara tersebut
biasanya dipraktekan saat upacara pemakaman, tradisi Konfusianisme diterapkan
dalam percakapan sehari-hari. Keempat, Pandangan orang Korea tentang manusia
dan dunia sangat dipengaruhi ajaran konfusianisme. Ajaran Konfuisianisme tetap
kuat dalam kehidupan masyarakat Korea walaupun perannya semakin berkurang
(Keum, 2000:33-34).
Masuknya Konfusianisme
ke Korea secara tidak langsung mempengaruhi kebudayaan Korea. Ada tiga cara
dimana Konfusianisme mempengaruhi kebudayaan Korea yakni, pengaruh budaya,
pengaruh politik, dan pengaruh sosial. Pengaruh budaya dimana Konfusianisme
mempengaruhi seni, huruf, pendidikan, dan filosofi. Ini adalah tahap pertama
dalam mempengaruhi kerajaan kuno di Korea. Pengaruh politik dibangun pada
budaya yang telah terpengaruh (Grayson, 2002:49).Konfusianisme dan mengadopsi perkembangan
filosofi politik yang mengawali peciptaan birokrasi negara dan struktur
pemerintahan formal dengan berbagai fungsi politik dan memeriksa fungsi
pemerintahan. Kemudian pengaruh sosial dimana Konfusianisme merestrukturisasi
asas masyarakat, meliputi adat istiadatdan nilai, terutama perubahan dalam
hubungan sosial. Ini adalah tahap terakhir Konfusianisme di Korea. Sampai pada
dinasti Choson, pengaruh Konfusianisme di Korea sangat besar di are politik dan
urusan kebudayaan, hampir tidak menyentuh lingkungan sosial
b) Perkembangan Konfusianisme di Korea.
Konfusianisme di Korea
berkembang dari masa ke masa. Konfusianisme berkembang pertama kali dari Tiga
Kerajaan dan semakin berkembang di masa Dinasti Koryo, Choson, setelah
kemerdekaan dan pada masa budaya kontemporer Korea.
Ø Konfusianisme Pada Masa Tiga Kerajaan.Konfusianisme masuk ke Korea dari
Cina melalui politik dan kebudayaan. Tidak ada tanggal pasti mengenai masuknya
Konfusianisme dari Cina ke Korea, namun bukti-bukti menunjukan bahwa
Konfusianisme datang sebelum masa Tiga Kerajaan. Oleh karena itu diasumsikan
bahwa Konfusianisme diperkenalkan ke Korea antara 403-221SM (Keum, 2000:34).
Tiga kerajaan merupakan
gabungan dari kerajaan Koguryo, Paekche, dan Silla. Raja Jumong mendirikan
Kerajaan Koguryo pada tahun 37 SM, Raja Oryo mendirikan Kerajaan Paekche pada
18 SM, dan Kerajaan Silla pada tahun 57 SM dengan raja pertamanya Pak Hyogose
(Yang dan Setiawati, 2003: 15).Kerajaan Koguryo berlokasi paling dekat dekat
dengan tiongkok, daerah Yomyong, Liaoning, sekarang terletak di wilayah
Manchuria. Koguryo pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddha.
Konfusianisme pertama kali diterima di Koguryo kemungkinan sejak abad ke-4
Masehi, lalu berturut-turut ke Paekche dan Silla, saat ketiga negara telah
mencapai tingkat kematangan (Grayson, 2002:49).
Di abad ke-4 seperti
Koguryo dan Paekche mengadopsi dan menyerap Konfusianisme dari Cina.
Pengadopsian pengetahuan mengenai Konfusianisme dan sistem pendidikan
Konfusianisme adalah sebuah arti penting budaya dan standar politik Korea yang
tinggi. Pengadopsian Konfusianisme di satu bentuk atau lainnya tidak berarti
negara itu kemudian menjadi masyarakat Konfusianisme, tetapi hanya menerima
pengaruh Konfusianisme yakti budaya alam (Grayson, 2002:49).
Pada akhir pertengahan
abad ke-4 banyak muncul sekolah-sekolah yang berbasis kepada ajaran-ajaran
Konfusianisme. Peristiwa besar yang terjadi di akhir pertengahan abad ke-4
adalah penerapan ajaran Konfusianisme. Tulisan-tulisan tentang Konfusianisme
yang disusun wajib dibaca di sekolah resmi yang pertama didirikan di Koguryo
pada 375 M (Keun, 2000:35). Pendirian akademi ini diikuti segera dengan
pembinaan berbagai akademi swasta bernama Kyongdang. Meskipun tujuan
sekolah-sekolah ini untuk mendidik pemuda Koguryo dengan ideologi Konfusianisme
klasik, literatur Cina, dan bela diri, aturan mereka dengan membatasi merusak
salah satu aspek penting Konfusianisme (Grayson, 2002: 49-50). Di selatan
Paekche, seorang cendikiawan bernama Kohung menyusun sebuah buku sejarah (sogi),
yang ditulis pada masa Cina klasik tahun 375. Koguryo menggunakan Tao sebagai
prinsip panduan Konfusianisme. Tidak hanya Koguryo, paekche dan Silla juga
melaksanakan ajaran Konfuasianisme yang idela bagi pemerintahan (Keum,
2000:35).
Kerajaan Silla
merupakan kerajaan terakhir yang mendapat pengaruh Konfudianisme pada masa Tiga
Kerajaan setelah Koguryo dan Paekche yang sudah mendapatkan pengaruh
Konfusianisme bertahun-tahun sebelumnya. Pada masa Silla terdapat Kukhak,
yakni sekolah yang mengajarkan Konfusianisme yang dikelola oleh para ahli
Konfusianisme dan pembantunya (Yang dan Setyawati, 2003: 36). Loyalitas, bakti,
dan keberanian antara kebajikan-kebajikan utama yang beranggotakan pemuda
Hwarang Silla, terkemuka dalam pengetahuan dan seni bela diri.
Kebajikan-kebajikan ini juga merefleksikan nilai-nilai Konfusianisme yang
dipegang secara luas oleh mereka. Konfusianisme sesuai dengan keadaan manusia,
sedangkan ajaran Buddha lebih memperlihatkan masalah rohani. Orang-orang Silla
lebih tertarik kepada Konfusianisme dibanding Buddha. Konfusianisme merupakan
elemen penting dalam filosofi sosial pada era Tiga Kerajaan, suatu masa dimana
Buddha juga berkembang (Keum, 2000:35-36)
Ø Konfusianisme Pada Masa Dinasti Koryo.
Koryo berdiri pada
tahun 918 dengan Raja Taejo sebagai raja pertama. Kebudayaan bangsa Korea yang
berlandaskan Konfusianisme berkembang pesat pada masa ini (Yang dan Setiawati,
2003: 42). Pada masa Kerajaan Koryo perkemabangan bangsa Korea tidak hanya pada
kebudayaan yang berlandaskan Konfusianisme tapi juga perkembangan pendidikan
mengenai Konfusianisme. Pertumbuhan institusi pendidikan Konfusianisme dimulai
pada abad ke-10 dan terus berlanjut sampai abad ke-11. Terutama penting bagi
penciptaan sekolah swasta pendidikan Konfusianisme. Sebelumnya, pendidikan
formal Konfusianisme merupakan hak khusus pemerintahan (Grayson, 2002:90).
Selama masa
pemerintahan raja Songjong fungsi upacara pada leluhur didedikasikan untuk
surga. Pengabdian kebajikan orang-orang Korea semula didedikasikan untuk
konfusius. Neo-konfusianisme menjadi gelombang baru di Korea menjelang akhir
dinasti Koryo (Keum, 2000: 37). Neo-konfusianisme memiliki perbedaan yang besar
dalam memandang alam semesta dan dunia dibanding Buddha. Neo-konfusianisme
percaya bahwa seseorang harus menerima dan mengerti sifat dasar dari alam
semesta dan mendirikan filosofi pemerintahannya dan bekerja lebih keras untuk
mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari (Yi, 1997;16-17).
Konfusianisme di Korea
berpindah dari satu diantara pengaruh beberapa politik dan budaya menjadi
pengaruh sosial utama. Dalam era ini, sistem Konfusianisme sosial yang
sesungguhnya mulai muncul (Grayson, 2002: 104).
Ø Neo-konfusianisme Pada Masa Dinasti Choson
Choson berdiri pada
tahun 1392 dengan raja pertamanya Yi Song-gye. Pada masa Choson ilmu
Konfusianisme dijadikan sebagai dasar teori dalam memerintah kerajaan (Yang dan
Setyawati, 2003: 65).
Penciptaan pemerintahan
baru Choson tidak hanya melahirkan dinasti Korea baru, tetapi juga membuat
ajaran Konfusianisme lebih kuat. Berbeda dari dinasti lain terdahulu, ideologi
Kerajaan Choson berdasar pada filosofi Konfusianisme. Dari abad ke-5, pengaruh
Konfusianisme menjadi penanda pengaruh sosial bukan sekedar pengaruh politik
dan sosial (Grayson, 2002: 112). Struktur pemerintahan dipengaruhi untuk dapat
mendirikan kerajaan yang berlandaskan Konfusianisme (Yang dan Setyawati, 2003:
65). Dalam proses pengembangan institusi dan penguatan ekonomi pada abad ke-15,
praktek etika dan aspek ritual Neo-konfusianisme menekankan pada aspek filosofi
di Choson (anonim a, 20002: 67).
Pada awal abad ke-17,
Neo-konfusianisme berkembang dengan penanganan khusus pada ajaran etika. Ajaran
Neo-konfusianisme berpusat pada ritual keluarga. Periode ini melihat
pembudayaan etiket populer dan untuk mengerahkan pengaruh yang lebih besar pada
kehidupan masyarakat. Etiket keluarga bervariasi atara strata masyarakat yang
berbeda-beda, tapi secara luas dipraktekan oleh keluarga biasa. Meskipun
berbeda dengan penerapannya, akan tetapi semua praktek didirikan oleh prinsip
yang sama ( Keum, 2000: 41). Pada abad ini, ahli Neo-konfusinisme menegaskan
kekuatan mereka walaupun terjadi kerusuhan didalam dan diluar. Invasi Jepang
pada 1592 dan 1597 serta invasi Manchu pada 1636 memberikan sebuah kesempatan
untuk menguji kembali peran Neo-konfusianisme sebagai ideologi dominan.
Pembelajaran ritual berkembang pesat pada abad 17 sebagai sebuah pelajaran
ilmiah. Pembelajaran dinamakan “Masa Pembelajaran Agama” dan banyak kontroversi
terjadi pada saat itu (anonim a, 2002: 74-79).
Awal abad ke-18,
kontroversi menggelora diantara ahli Neo-konfusianisme seperti perbedaan klasik
antara manusia dan persoalan yang ada. Peristiwa ini membuktikan bahwa
Non-konfusianisme di Kerajaan Choson diperhatikan dengan fokus studi
kemanusiaan (Keum, 2000: 42).
Ketika Katolik masuk ke
Korea pada 1784, Neo-Konfusianisme berusaha menekan usaha masuknya agama ini ke
Korea. Rintangan besar menerima Katolik oleh masyarakat Choson adalah
Katolik melarang pemujaan kepada leluhur, upacara Konfusianisme yang paling
dasar. Kekerasan dan sistem kepercayaan fanatik masyarakat Choson yang diatur
oleh Konfusianisme, menolak masuknya Katolik (Keum, 2000: 43-45).
Ø Konfusianisme Pada Masa Kemerdekaan
Bersama dengan bebasnya Korea dari Jepang pada 1945,
Para ahli Konfusianisme membangun kembali jaringan organisasi mereka. Pada
bulan Maret 1946, perwakilan berkumpul untuk membuka pusat Yudohe (Masyarakat
Konfusius). Sebagai afiliasinya yayasan Songgyun’gwan didirikan untuk mengambil
alih manajemen Songgyun’gwan ( Akademi Konfusius Nasional) di Seoul dan Hyanggyo
(akademi lokal) dibagian lain Korea. Pada bulan Sepetember tahun 1946 didirikan
Universitas Songgyun’ gwan atas usaha Kim Chang- Suk (Keum, 2000:46).
Pada tahunn 1980, pengikut ajaran Konfusius mengadakan inagurasi Lembaga Penelitian Konfusius pada 1985 untuk mendorong penelitian ilmiah melalui seminar berkala dan terbitan jurnal yang mendorong sebuah reinterpretasi modern ideologi Konfusius Tradisional (Keum, 2000: 49).
Pada tahunn 1980, pengikut ajaran Konfusius mengadakan inagurasi Lembaga Penelitian Konfusius pada 1985 untuk mendorong penelitian ilmiah melalui seminar berkala dan terbitan jurnal yang mendorong sebuah reinterpretasi modern ideologi Konfusius Tradisional (Keum, 2000: 49).
Ø Konfusianisme dan Budaya Komtemporer Korea.Saat ini, nilai-nilai modern
barat mengancam nilai-nilai ortodoks Konfusianisme tradisional Korea.
Kebudayaan Korea mengakar kuat pada Konfusianisme dimana bertanggung jawab
untuk mempertahankan peninggalan negara yang dihormati dan memperkaya
perkembangan kebudayaannya.
Pertama, Konfusianisme
harus mendukung integritas dan keberlanjutan sejarah Korea dengan reformasi dan
menyesuaikan diri dengan masyarakat kontemporer. Kedua, Konfusianisme bisa
memberikan masyarakat kontemporer Korea dengan sebuah standar praktik
pelaksanaan dalam bentuk ritual dan etiket. Ketiga, Konfusianisme memperkuat
struktur masyarakat. Keempat, moral Konfusius dan karakternya dikontribusikan
untuk kehidupan masyarakat Korea di masa kini. Kelima, semangat Konfusius akan
dijalankan sebagai tenaga penggerak manusia untuk mencari keadilan.
Konfusianisme Korea adalah sesuatu di masa lalu. Konfusianisme masih bertahan sampai saat ini. Tugas mendesak bagi komunitas Konfusius Korea adalah menyesuaikan fungsinya pada kondisi yang berlaku di masyarakat modern melalui sebuah reformasi dinamis dan aktivitas (Keum, 2000: 49-51)
Konfusianisme Korea adalah sesuatu di masa lalu. Konfusianisme masih bertahan sampai saat ini. Tugas mendesak bagi komunitas Konfusius Korea adalah menyesuaikan fungsinya pada kondisi yang berlaku di masyarakat modern melalui sebuah reformasi dinamis dan aktivitas (Keum, 2000: 49-51)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa
Konfusianisme adalah ajaran yang dinamis dan dapat beradaptasi mengikuti
situasi dan kondisi dalam negara yang dipengaruhi ajarannya. Konfusianisme juga
banyak dijadikan ajaran utama dalam berbagai sekolah di Cina, hal ini
dikarenakan Konfusianisme dianggap mampu mendorong kehidupan manusia pada
keharmonisan. Menurut saya, Konfusianisme adalah ajaran yang sulit untuk
diartikan sebagai ilmu karena narasi filosofis dan ide-ide yang masih abstrak
dalam ajarannya. Bahkan untuk mengembangkannya kita harus berulang-ulang
kembali ke dasar dari ajaran tersebut. Oleh karena itu baik di Cina, Korea
maupun Jepang, Konfusianisme mengalami banyak perubahan secara bertahap dengan
pengaruh-pengaruh eksternal seperti budaya Barat. Konfusianisme di Jepang walaupun memiliki perbedaan,
tetapi segala ajaran dan tujuannya tetap sama dengan ajaran konfusianisme di
Cina, yaitu tujuannya untuk kesejahteraan kehidupan antar manusia.
DAFTAR PUSTAKA
diakses pada : Sabtu, 06 Juni 2009
Catatan pelajaran Sejarah Kebudayaan Jepang I, Kamis,
02 Juni 2009
Reischauer, Edwin O, 1982, Manusia Jepang. Sinar
Harapan: Jakarta.
Danandjaja, James, 1997, Foklor Jepang. PT. Puataka
Utama Grafiti: Jakarta.
Beasley, W.G, 2003, Pengalaman Jepang Sejarah Singkat
Jepang, Yayasan Obor Indonesia.
Chai, Wenhua, Yang Xu. 2006. Traditional
Confucianism in Modern Cina: Mayifu’s Ethical Trought dalam
Frontiers of Philosophy in China, Vol 1, No.3.
Keum, Jang-Tae. 2000, Confucianism and Korea Thought. Seoul: Jimoondang.
Keum, Jang-Tae. 2000, Confucianism and Korea Thought. Seoul: Jimoondang.
alhamdullah blongnya berhasil. semoga bermanfaat
BalasHapus